LUAR BIASA KEPALA SEKOLAH INI, JADI TUKANG KEBUN DAN TUKANG TAMBAL BAN DIA JALANI

Beritapgri.com - Assalamualaikum wr wb ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Selamat pagi rekan-rekan guru semua yang berada diseluruh Indonesia, pagi ini beritapgri.com akan membagikan informasi mengenai,,,,,,,

Seperti potret kecil namun faktual adanya. Kabupaten Jember, masih memiliki berbagai keterbatasan soal pendidikan di wilayah pinggiran. Seperti SMPN 4 Tempurejo, yang hanya memiliki siswa belasan anak. Seperti apa?

Status sekolahnya memang negeri. Sebelum naik status, SMPN 4 Tempurejo itu bernama SMP satu atap. Namun meski berlabel sekolah negeri, bukan berarti sudah memiliki banyak murid. Karena keseluruhan siswanya di tahun ini, hanya berjumlah 19 anak.



Dua tahun silam, SMP Negeri itu masih didatangi 4 orang anak yang mendaftar jadi muridnya. Setahun lalu, jumlahnya meningkat dengan pendaftar 10 siswa. Namun di tahun ini, mulai menyusut jadi 5 orang anak. Sehingga total siswanya, tak lebih dari 19 orang siswa.

Para guru di sekolah itu tak bisa berbuat banyak. Apalagi bermimpi, tiba-tiba ratusan siswa datang untuk sekolah di tempatnya. Karena mereka, hanya bisa mengandalkan anak buruh kebun di perkampungan Afdeling Trate, Perkebunan Kotta Blater Tempurejo. Sementara total keluarga di perkampungan kebun tersebut, terhitung hanya 160-an kepala keluarga (KK).

Dipaksa untuk ekspansi mencari murid ke luar daerah, membuat para guru pesimistis. Selain lokasi sekolah yang ada di tengah perkebunan karet berjarak 7 kilometer dengan kantor Kebun Kotta Blater, akses menuju sekolah itu pun juga penuh tantangan. Belum lagi, ditarik jarak ke daerah terdekat seperti Kantor Kecamatan Tempurejo dan Ambulu.

Bukan hanya murid yang bakal kesulitan ke sekolah, jika asalnya dari luar perkampungan Afdeling Trate. Sekelas kepala sekolah setempat pun, dibuat geleng-geleng karena rute jalan makadam jauh dari rumah penduduk. Apalagi, rumah sang kepala sekolah ada di Kecamatan Puger. Jaraknya, bisa mencapai 40 kilometer dari tempat pengabdiannya.

Imam Subadi, tak hanya jadi kepala sekolah di SMPN 4 Tempurejo. Terkadang, peran tukang kebun juga dia lakukan untuk sekolahnya. Apalagi, setelah liburan panjang seperti kemarin. Rerumputan tumbuh tinggi karena memang, sekolahnya bekas kebun. “Saya harus bawa sabit dari rumah,” akunya.

Selain membawa peralatan tukang kebun, di motor guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) itu juga ada perlengkapan tambal ban. Seperti pompa dan karet penambal ban motor. “Karena kalau sampai bocor di tengah kebun, tidak ada tukang tambal dan saya pastinya tidak bisa mengajar,” tuturnya.

Memulai kerja, Imam, harus berangkat sejak pukul 05.30. Terkadang, dia harus bolak-balik Puger - Tempurejo sampai dua kali. Karena di pertengahan waktu, dia harus mengajar di SMPN 1 Puger. Maklum, sebagai guru PNS dia juga dibebani tugas mengajar di sekolah asalnya.

Namun yang membuat langkahnya terhenti, setelah musim hujan. Jalan menuju sekolah itu dipastikan becek. Motor, sulit lewat. Apalagi dia yang sudah mulai berumur. “Sehingga kalau hujan, guru tidak tetap (GTT) yang tinggal di sekolah, selalu memberi kabar dengan SMS,” akunya.

Perjuangannya bukan hanya akses dan minimnya siswa. Soal anggaran bersumber bantuan operasional siswa (BOS), juga menjadi keluhannya. Penyebabnya, regulasi bos yang dihitung dengan jumlah siswa yang ada. Sehingga, setiap tiga bulan sekolahnya hanya memperoleh BOS tak lebih Rp 5 juta. Sementara GTT dan karyawan seperti penjaga malam sekolah, dihitung ada sampai 7 orang. 

Percaya kemudian, saat dia mengaku bahwa sekolahnya harus nunggak untuk gaji guru GTT dan karyawan honorer. “Beruntung, guru di sini semangatnya untuk pengabdian,” pungkasnya.

Meski demikian, dia berharap masalah di sekolahnya segera dapat solusi. Sebab dia mengaku tak sanggup, jika beban seberat itu harus ditanggungnya dengan kapasitas yang terbatas.

Sumber : Jawapos

Demikian informasi yang dapat beritapgri.com berikan, semoga ada manfaatnya untuk kita semua.........

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "LUAR BIASA KEPALA SEKOLAH INI, JADI TUKANG KEBUN DAN TUKANG TAMBAL BAN DIA JALANI"

Post a Comment