Pendidikan Guru: Seberapa pentingkah?


DUNIA  pendidikan saat ini ditengarai tengah menghadapi tantangan yang lebih kompleks sesuai dengan kemuskilan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan secara keseluruhan.
Guru, yang sampai saat ini diyakini banyak pihak sebagai ujung tombak pendidikan, harus berhadapan dengan standar yang jauh lebih tinggi, dengan tuntutan pengetahuan bidang ajar yang lebih luas, dan keterampilan mengajar yang lebih cergas. Untuk itu, logislah bahwa pendidikan guru menduduki posisi yang amat sentral dan strategis—sentral, karena akan berpengaruh secara sentrifugal terhadap upaya-upaya pendidikan lainnya, dan strategis, karena akan berkontribusi pada pembangunan bangsa secara sistemik.
Pembukaan UUD 1945 telah menegaskan bahwa salah satu tujuan bernegara itu adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kata kuncinya adalah “mencerdaskan” yang dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan “mengusahakan... supaya sempurna akal budinya.” Akal budi itu merujuk ke pikiran sehat, bukan mengakali, dan tidak mengarah ke akal-akalan. Pendidikan dalam arti yang luas berperan kunci dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan makna yang amat dalam itu. Apalagi bila cara pikir konstitusional ini diperkuat dengan apa yang digariskan dalam UU Sisdiknas 2003—yaitu peserta didik dengan karakteristik “beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Tuntutan peraturan perundangan ini perlu diterjemahkan secara cermat dan daria oleh para pemangku pendidikan.
Telah terjadi pemahaman yang tidak tepat tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yang baik. Selain itu, terdapat pandangan yang tidak pas tentang standar pengajaran, yang berakibat adanya “penyelundupan” ke dalam profesi guru dari jalan belakang. Lembaga pendidikan guru sering juga diperlakukan sebagai “pabrik” guru yang cenderung memberi peluang sedikit saja bagi calon guru guna mengenali karakteristik siswa secara utuh dan guna bekerja sama dengan sesama calon guru lainnya tentang kurikulum, rencana pembelajaran, strategi mengajar, dan evaluasi siswa secara akuntabel.
Ketika struktur pendidikan guru mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak, selalu ada yang tertinggal dari pengamatan, yaitu “kotak hitam” pendidikan guru—perkuliahan apa yang terserap, serta praktik mengajar seperti apa yang dilakoni oleh para calon guru itu. Kita sepakat bahwa calon guru perlu menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang bertalian dengan dunia pengajaran yang akan dihadapinya. Mengajar itu sebuah kiprah profesional. Oleh karena itu mengajar bukan sekadar kegiatan rutin, dan keniscayaannya bertemali bolak balik dengan belajar. Oleh karenanya, seorang calon guru harus belajar menghadapi masalah praktis yang dihadapinya dan memenuhi kebutuhan pembelajaran dari siswa dengan watak yang beraneka.
Prioritas penanganan pendidikan secara skala nasional tampaknya belum menukik secara proporsional terhadap pendidikan guru. Dana yang dialokasikan untuk lembaga pendidikan tenaga kependidikan masih tampak “seperti yang dulu”, biasa-biasa saja, dibandingkan dengan perhatian terhadap pendidikan di bidang sains dan teknologi, misalnya. Political will dari pemegang otoritas kebijakan pendidikan secara nasional sangat dinantikan.
Bila berkaca ke negara tetangga, kita bisa belajar banyak. Lee Kuan Yew mampu mengangkat Singapura menjadi sejajar dengan negara maju lainnya salah satunya karena dia melihat pendidikan sebagai an essential element in the creation of a single unified nation. Kebijakan pendidikannya dimulai dari pengembangan literasi, pendidikan sumber daya manusia berkualitas, kemudian ke kreativitas dan kapasitas siswa dalam berinovasi. Kebijakan melipatgandakan gaji guru telah menaikkan mutu kualitas entri ke profesi guru itu sendiri. Pemerintahan Lee Kuan Yew sangat fokus pada pendidikan, intinya fokus. Negara kecil yang baru seperti Vietnam akan menggungguli beberapa negara lain, termasuk kita, dalam hal mutu pendidikan, antara lain dengan menyediakan anggaran pendidikan 6.3% dari GDP-nya, begitu juga Timor Leste negara yang baru bangun tetapi berani menyediakan 7% dari GDP untuk anggaran pendidikannya, dibandingkan dengan Indonesia yang hanya 3.4%.
Bila kita sepakat guru itu esensial dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka lembaga pendidikan guru patut mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Fokus, sekali lagi fokus, diperlukan dari semua pemangku kepentingan. Bukan hanya anggaran, tetapi juga pengembangan secara komprehensif: standar dan mutu kelembagaan, pemutakhiran perangkat keras dan lunak untuk pelatihan guru, pemantauan intensif terhadap penyelenggaraan program pendidikan, serta kecermatan pengukuran keberhasilan lulusan program pendidikan guru itu sendiri. Pendidikan Abad 21 (2016) yang ditulis para guru besar UPI menekankan bahwa “pendidikan yang siap menghadapi tantangan Abad ke-21 adalah pendidikan yang tidak kurung batok, tetapi pendidikan yang membuka cakrawala secara luas, dengan mengadopsi pendekatan interdisipliner dan transdisipliner.” Untuk itu, lembaga pendidikan guru harus didukung untuk mampu membaca fenomena kependidikan secara terbuka lebar.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan Guru: Seberapa pentingkah?"

Post a Comment